Ketika Hoax dan Konten Negatif Menyerang Indonesia

Imam M



Indonesia negri yang memiliki banyak pulau, negri yang memiliki bermacam suku, bercampur menjadi satu, dalam bhineka tunggal ika.

Dulu ketika media sosial masih belum ada, kebebasan berpendapat diutarakan melalui tulisan-tulisan koran, surat, ataupun aksi di depan kantor pemerintahan, dan itupun biasanya hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu, dengan isi yang berbobot

Kini, di jaman serba digital, serba cepat, setiap orang bahkan yang awampun sekarang mampu menyampaikan pendapat.

Banyak hal positif maupun hal negatif yang hadir dari cepatnya arus komunikasi ini. Entah itu kita bisa mendapatkan berbagai ilmu yang berseliweran, cerita hingga berbagai konten yang berbau provokasi.

Di Indonesia sendiri facebook merupakan salah satu media sosial yang cukup banyak digunakan oleh masyarakat, ada ribuan opini yang mengalir di media sosial ini. Ketika berita provokasi ini saling menyerang, maka masyarakat pun juga ikut terpecah.

Saya ingat dulu ketika sedang gencar-gencarnya pemilihan presiden tahun 2014, setiap hari diberanda facebook saya hanya muncul ujaran-ujaran kebencian masing-masing pihak, walaupun, saya sendiri sebenarnya tidak mengikuti debat yang kadang tidak tahu kapan selesainya, tapi cukup dengan membaca ujaran-ujaran kebencian seperti itu setiap hari rupanya sudah membuat saya sakit kepala, bahkan sampai pemilihan presiden usai pun masih ada saja pihak yang saling menyerang satu sama lain.

Beberapa bulan sesudahnya, HOAX pun muncul, saya, sebagai orang yang cukup aktif di dunia maya sebenarnya sudah cukup mengerti dengan ciri khas web/blog yang suka menyebarkan hoax, kalau dulu berita hoax hanya bertujuan mencari sensasi agar mendapatkan pengunjung dengan berita seperti ; penampakan alien, makhluk dari dalam tanah, dan lain-lain, kesemuanya itu bertujuan untuk satu hal, traffik pengunjung, dengan traffik pengunjung tinggi maka otomatis blog bisa menghasilkan uang.

contoh hoax di medsos

Bedanya sekarang, hoax yang ditampilkan sudah ke arah sosial yang bertujuan untuk tujuan memecah belah. Setiap orang hanya dengan satu sentuhan jari, maka beritapun tersebar kepada ratusan hingga ribuan teman media sosial.

Berbagai teknik juga terkadang ditampilkan oleh para pembuat hoax dengan memasang judul yang memprovokasi, parahnya, para pengguna media sosial sebagian besar juga lebih suka membaca judul ketimbang membaca isinya, inilah salah satu efek kurangnya minat baca di Indonesia.

Masyarakat Indonesia juga sempat terpecah dengan berbagai hoax yang muncul, debat sana-sini juga menjadi makanan sehari-hari di grup-grup media sosial, tidak kalah dengan masa pemilihan presiden 2014

Pada acara Flash Blogging yang diadakan oleh kominfo dijelaskan bahwa konten negatif lebih banyak menyebar di media sosial dibandingkan konten positif, 
Karena itulah, kita sebagai penggiat media sosial sebaiknya jangan asal makan berita, telaah setiap berita yang kita dapatkan melalui internet, selalu ada fakta di balik sebuah berita, entah itu fakta tersebut akan menjelaskan berita tersebut hoax ataupun ternyata benar.

Kini, mungkin hoax sudah agak berkurang dengan banyaknya kampanye anti hoax yang dilakukan oleh berbagai lembaga, entah itu dari pemerintah, swasta maupun komunitas penggiat media sosial.

Dan sekarang adalah tugas kita, kepada setiap yang membaca tulisan ini agar melaporkan setiap hoax dan berita yang berbau provokasi agar tidak cepat menyebar dan menjadi viral.

Perhatikan setiap blog yang menyebarkan berita provokasi, apakah ada redaksinya ? kemudian setiap akun media sosial juga diperhatikan, apakah akun tersebut jelas ? apakah konten tersebut bisa dipertanggung jawabkan fakta-faktanya ? jika tidak, laporkan, atau paling tidak tinggalkan.

Dengan cara ini maka Indonesia bisa bergerak ke arah yang lebih baik, media sosial juga akan terasa lebih menyehatkan ketika kita membukanya, dan jangan lupa, kita juga jangan ikut-ikutan menyebarkan ujaran kebencian.

SAY NO TO NEGATIF CONTENT

Pentingnya Mendukung Startup Lokal

Imam M


Sekarang ini startup lokal di Indonesia terus menerus bermunculan, pada tahun 2016 saja yang sudah terdaftar ada sekitar dua ribuan startup dari berbagai jenis. Bahkan kabarnya Indonesia memiliki jumlah pertumbuhan startup terbanyak se-Asia Tenggara.

Sebenarnya startup itu apa ?
Menurut Wikipedia Startup adalahPerusahaan rintisan, umumnya disebut startup (atau ejaan lain yaitu start-up), merujuk pada semua perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Istilah "startup" menjadi populer secara internasional pada masa gelembung dot-com, di mana dalam periode tersebut banyak perusahaan dot-com didirikan secara bersamaan.
Para pelaku startup biasanya terdiri dari kalangan anak muda yang memiliki semangat bisnis, walaupun ada yang mengatakan beberapa pelaku start up ada juga yang sekedar ikut-ikutan, mungkin inilah salah satu penyebab banyak matinya startup saat ditengah jalan.

Selain sekedar ikut-ikutan persaingan bisnis model startup di Indonesia rupanya juga lumayan ketat, terlihat dari tumbuh suburnya berbagai macam startup lalu ditambah lagi startup asing yang ikut melirik ke Indonesia.

Salah satu contohnya adalah Grab, saya sendiri sempat mengira grab merupakan produk dari anak negri dikarenakan boomingnya layanan transportasi online ini, namun rupanya dugaan saya tersebut salah setelah membaca salah satu artikel di CNN, ternyata grab merupakan milik seorang pria berkebangsaan malaysia.

Kehadiran grab sebagai transportasi berbasis teknologi aplikasi online rupanya sempat di protes pekerja dari taksi konvensional karena di anggap merugikan pendapatan mereka, walaupun tidak dapat juga di pungkiri ketidakmampuan mengikuti era teknologi juga menjadi penyebabnya.

Sebenarnya startup dengan jenis transportasi online di Indonesia juga mulai tumbuh dengan gencar, di daerah saya contohnya, sudah ada beberapa transportasi online yang agak mirip dengan go jek, seperti Amang Ojek dan Kulir.

startup lokal, startup asing, amang ojek
source : amangojek.co.id

Selain itu, masuknya startup yang berasal dari luar dengan di dukung oleh MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) saya kira agak membahayakan, mengingat startup lokal merintis usahanya dengan modal minim, berbeda dengan startup luar yang biasanya sudah punya modal cukup hingga 3-5 tahun kedepan untuk mendapatkan nama di masyarakat, terutama di bidang startup berbasis transportasi online yang saya lihat cukup gencar persaingannya.

Karena itu hadirnya startup dari luar indonesia bisa saja mengikis perekonomian Bangsa dan juga berdampak pada semakin jatuhnya startup lokal.

Sebenarnya kita secara tidak langsung sebagai konsumen juga bisa turut mendukung perkembangan indonesia di MEA dengan cara turut mendukung dan menggunakan startup buatan anak negri sendiri.

Selain dari pada itu, pemerintah sebaiknya juga turut mendukung startup lokal dengan cara mensupport pengembangan kemampuan IT dan Teknologi masyarakat Indonesia demi menunjang perkembangan startup lokal. Jika semua elemen turut mendukung perkembangan startup lokal maka saya pikir Indonesia bisa menjadi penguasa startup di Asean.
Powered by Blogger.